SATUAN ACARA PENGAJARAN
Nama : Hardi Yanta
NIM : G1B113020
Dosen
Pengampu : Muthia Muthmainnah,
S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat
Bidang
Studi : Pendidikan dalam Keperawatan
Tanggal
: 13 Juli 2014
Pokok
Bahasan : Perawatan Luka Decubitus
Sasaran : Pasien/Keluarga
Tempat :
Rumah Sakit Pendidikan Universitas Jambi
A. Latar
Belakang
Luka Decubitus/Ulkus
Dekubitus atau istilah lain Bedsores adalah
kerusakan/kematian kulit yang terjadi akibat gangguan aliran darah
setempat dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana
kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips,
pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka waktu yang lama.
Ulkus dekubitus
atau luka tekan terjadi akibat tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang
mengganggu sirkulasi. Pertama jaringan kulit memerah. Jika sel mati (nekrosis)
akibat kurang nutrisi kulit rusak dan pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring
menjadi lebih besar dan dalam.
B. Tujuan
a. Tujuan
Umum
Dilakukan tindakan
pendidikan kesehatan di harapkan klien dan keluarga dapat memahami mengenai perawatan luka decubitus.
b. Tujuan
Khusus
Setelah di lakukan
tindakan kesehatan di harapkan klien atau keluarga :
1. Menjelaskan
kembali pengertian perawatan luka decubitus dengan kalimatnya sendiri
2. Menyebutkan
tujuan perawatan luka
3. Menyebutkan
kembali alat-alat perawatan luka
4. Menyebutkan
kerugian tidak melakukan perawatan luka
C. Materi
(Terlampir)
D. Metode
: Ceramah dan Tanya Jawab
E. Sasaran
: Keluarga dan Pasien
F. Media
:
Infokus, PPT, Makalah, Gambar
G. Strategi
Pelaksanaan
|
No
|
Waktu
|
Kegiatan Pengajaran
|
Kegiatan Peserta
|
|
1.
2.
3.
|
5 Menit
15
Menit
5
Menit
|
Pembukaan
1.
Mengucapkan salam
2.
Memperkenalkan diri
3.
Menjelaskan tujuan yang ingin di
sampaikan
Kegiatan Inti
1. Menjelaskan
materi tentang perawatan luka
2. Memberikan
kesempatan untuk bertanya
3. Menjawab
pertanyaan yang di ajukan
Penutup
1. Menyimpulkan
materi
2. Mengucapkan
salam
|
Menjawab
salam
Mendengarkan
Menyimak
dengan baik
Mengajukan
pertanyaan
Menyimak
dengan baik
Mendengarkan
Menjawab
salam
|
H. Kriteria
Hasil
1. Evaluasi
Struktur
a. Pasien
atau keluarga mau menerima petugas kesehatan
b. Keluarga
atau pasien mengerti maksud dan tujuan pengajaran setelah di lakukan kontrak.
2. Evaluasi
Proses
a. Pasien
atau keluarga mau menepati kontrak waktu 25 menit
b. Saat
pengajaran keluarga dan pasien aktif bertanya tentang masalah yang belum di
mengerti.
3. Evaluasi
Hasil
a. Pasien
atau keluarga dapat menjawab pertanyaan yang di ajukan.
b. Keluarga
atau pasien dapat memberikan pendapat tentang masalah dalam perawatan luka
decubitus.
MATERI PENGAJARAN
A. PENGERTIAN
Ulkus
Dekubitus atau istilah lain Bedsores adalah
kerusakan/kematian kulit yang terjadi akibat gangguan aliran darah
setempat dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana
kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips,
pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka waktu yang lama.
Luka dekubitus, juga disebut ulkus dekubitus atau luka pada
tempat tidur, adalah area kemerahan, luka, atau ulkus pada kulit di atas
penonjolan tulang. Ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi
akibat tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi.
Pertama jaringan kulit memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi
kulit rusak dan pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar
dan dalam.
Bagian tubuh yang sering
mengalami ulkus dekubitus adalah bagian dimana terdapat penonjolan
tulang, yaitu bagian siku, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu, punggung dan
kepala bagian belakang.
B. Faktor yang mempengaruhi Luka
Decubitus/Luka Tekan
Di bawah ini adalah penjelasan dari masing
masing faktor diatas :
1.
Mobilitas dan aktivitas
Mobilitas
adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi tubuh, sedangkan
aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien yang berbaring terus menerus
ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah
posisi beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. Imobilitas adalah faktor
yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan[6][16]. Penelitian yang
dilakukan Suriadi (2003) di salah satu rumah sakit di Pontianak juga menunjukan
bahwa mobilitas merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan.
2.
Penurunan sensori persepsi
Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan
untuk merasakan sensori nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol. Bila
ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah terkena luka tekan.
3.
Kelembapan
Kelembapan yang disebabkan
karena inkontinensia dapat mengakibatkan
terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang mengalami maserasi
akan mudah mengalami erosi.. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit
mudah terkena pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear).
Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada
inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat merusak
permukaan kulit.
4. Tenaga yang merobek ( shear )
Contoh yang paling
sering dari tenaga yang merobek ini adalah ketika pasien Pada posisi ini pasien
bisa merosot kebawah, sehingga mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun
kulitnya masih tertinggal.
5. Pergesekan ( friction)
Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan
merusak permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat
penggantian sprei pasien yang tidak berhati-hati.
6. Nutrisi
Hipoalbuminemia,
kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor
predisposisi untuk terjadinya luka tekan. Menurut penelitian Guenter (2000)
stadium tiga dan empat dari luka tekan pada orangtua berhubungan dengan
penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin, dan intake makanan yang tidak
mencukupi.
7. Usia
Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang
tinggi untuk terkena luka tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring
dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum
albumin, penurunan respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta
penurunan kohesi antara epidermis dan dermis. Perubahan ini berkombinasi dengan
faktor penuaan lain akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap
tekanan, pergesekan, dan tenaga yang merobek.
8. Tekanan arteriolar yang rendah
Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi
toleransi kulit terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah
sudah mampu mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. Studi yang dilakukan oleh
Nancy Bergstrom ( 1992) menemukan bahwa tekanan sistolik dan tekanan diastolik
yang rendah berkontribusi pada perkembangan luka tekan.
9. Stress emosional
Depresi dan stress emosional kronik misalnya
pada pasien psikiatrik juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari
luka tekan[18].
10. Merokok
Nikotin yang terdapat
pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan memiliki efek toksik terhadap
endotelium pembuluh darah. Menurut hasil penelitian Suriadi (2002) ada hubungaan yang signifikan antara merokok dengan
perkembangan terhadap luka tekan.
11. Temperatur kulit
Menurut hasil
penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur merupakan faktor yang
signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan.Menurut hasil penelitian, faktor
penting lainnya yang juga berpengaruh terhadap risiko terjadinya luka tekan
adalah tekanan antar muka ( interface pressure). Tekanan antar muka
adalah kekuatan per unit area antara tubuh dengan permukaan matras.
B. Luka Dekubitus umum terjadi
pada :
a. Pasien
Lansia
b. Pasien
yang sangat kurus
c. Pasien
kegemukan (Obesitas)
d. Pasien
yang tak dapat bergerak
e. Pasien
Inkohtivensia
f. Pasien
Lemah
C. Alat atau Perlengkapan
1. Pinset anatomi
2. Pinset chirurgis
3. Kasa steril
4. Gunting plester
5. Plester/perekat
6. Alkohol 70 %
7. Desinfektant
8. Larutan NaCl
9. Sarung tangan bersih
10. Sarung tangan steril
11. Lidi kapas steril
12. GCO-puregen oil
D. Cara Perawatan Dekubitus
1. Bersihkan
luka dekubitus dengan menggunakan kasa bersih yang steril dengan
menggunakan caiaran NaCl(cairan infus) dan di angin-anginkan selama 5 menit lalu oleskan betadin
kebagian lika yang agak dalam dan biarkan sampai kering (oleskan betadin agar mencegah
infeksi saja), setelah itu baru oleskan lagi dengan puregan oil ke seluruh luka
dekubitusdan usahakan jangan ditutup agar luka cepat kering.
2. Hari berikutnya, jika luka bernanah,
bersihkan lagi dengan caiaran NaCl (cairan infuse) dengan kasa steril sampai
bersih tidak ada nanah sama sekali dan oleskan lagi betadin setelah kering baru
oles lagi puregan oil. Jika daerah yang
dibersihkan agak membesar dan membentuk lobang agak dalam, ambil kain kasa
steril larutkan dalam cairan NaCl (cairan inpus) lalu masukkan dalam lobang luka tsb
sambil ditekan sedikt agar nanah menempel ke bagian kain kasa lakukan
berulang-ulang sampai benar-benar bersih setelah bersih baru boleh teruskan
tahap no 1.
3. Jika dekubitus ada pada daerah
punggung sesekali biarkan pasien tidur agak miring atau merubah posisi tidur
pasien
4. Oleskan puregan oil pada pagi hari
dan malam hari, tentunya setelah dibersihkan dan jika luka masih kemerahan
(awal dekubitus) oleskan GCO-puregan oil ini dengan cara di massage secara
perlahan-lahan keseluruh luka dekubitus.
5. Memerlukan waktu beberapa minggu
untuk proses penyembuhan jika jaringan kulit sudah mati (nevkrotik) dan jika
sampai ke tulang butuh waktu lebih lama lagi tapi kadang tergantung kondisi
fisik dan kejiwaan pasien jadi pasien harus selalu punya semangat yang kuat dan
selalu ceria (proses penyembuhan biasanya berbea-beda tiap pasien).
6. Atur pola makan pasien yaitu makanan
yang memenuhi gizi seimbang.
Penatalaksanaan
luka dekubitus :
1. Hilangkan tekanan pada daerah-daerah
yang terkena dengan mengubah-ubah posisi.
2. Mengusahakan adanya udara antara
badan dan tempat tidur berjalan lancar.
E. Stadium Luka Decubitus
1. Dekubitus
derajat I
Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. Kulit yang
kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun, diberi lotion,
kemudian dimassage 2-3
kali/hari.
2. Dekubitus
derajat II
Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal. Perawatan luka
harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Daerah
bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat
bergantian untuk meransang sirkulasi. Dapat diberikan salep topikal,
mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan muda/granulasi. Penggantian
balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat
merusak pertumbuhan jaringan yang diharapkan.
3. Dekubitus derajat III
Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada
bungkus otot dan sering sudah ada infeksi. Usahakan luka selalu bersih dan eksudat
diusahakan dapat mengalir keluar. Balut jangan terlalu tebal dan
sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan
penguapan. Kelembaban luka dijaga tetap basah, karena akan mempermudah
regenarasi sel-sel kulit. Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl
fisiologis.
4. Dekubitus derajat IV
Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan
sering pula diserta jaringan nekrotik. Semua langkah-langkah diatas tetap
dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan , sebab akan
menghalangi pertumbuhan jaringan/epitelisasi.
F. Tindakan Pencegahan Dekubitus
1. Meningkatkan
status kesehatan klien
Memperbaiki dan menjaga keadaan umum
klien, misalnya anemia diatasi, hipoalbuminemia dikoreksi, nutrisi dan hidrasi
yang cukup, vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan.
2. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan
yang mengganggu aliran darah
a. Alih posisi/alih baring/tidur selang
seling, paling lama tiap dua jam. Keburukan pada cara ini adalah ketergantungan
pada tenaga perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang, dan kadang-kadang
mengganggu istirahat klien bahkan menyakitkan.
b. Kasur khusus untuk lebih membagi
rata tekanan yang terjadi pada tubuh klien, misalnya; kasur dengan gelembung
tekan udara yang naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur.
(keberatan alat canggih ini adalah harganya mahal, perawatannya sendir harus
baik dan dapat rusak.
c. Regangan kulit dan lipatan kulit
yang menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu, dapat dikurangi antara
lain:
1) Menjaga posisi klien, apakah ditidurkan
rata pada tempat tidurnya, atau sudah memungkinkan untuk duduk dikursi.
2) Bantuan balok penyangga kedua kaki,
bantal-bantal kecil untuk menahan tubuh klien, “kue donat” untuk tumit.
d. Kaji Status Pasien
Untuk pasien yang lemah, lakukanlah perubahan posisi. Ketika
menggunakan posisi lateral, hindari tekanan secara langsung pada daerah
trochanter. Bila ingin memposisikan pasien pada posisi lateral, maka
posisikanlah pasien pada posisi lateral inklin 30 , posisi ini memungkinkan
distribusi tekanan pada daerah yang lebih luas. Posisi lateral inklin 30
derajad terdapat di bawah ini.
Kesimpulan
Luka dekubitus, juga disebut ulkus dekubitus atau luka pada
tempat tidur, adalah area kemerahan, luka, atau ulkus pada kulit di atas
penonjolan tulang. ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi
akibat tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi.
Pertama jaringan kulit memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi
kulit rusak dan pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar
dan dalam.
DAFTAR
PUSTAKA
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts,
Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Sjamsuhidayat, R. Wim de jong. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta,
EGC







