Selasa, 01 Mei 2018

CARA BATUK EFEKTIF

                        BATUK EFEKTIF: A REVIEW
                       
1.      Latar Belakang
Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara maksimal. Batuk merupakan gerakan yang dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru paru. Gerakan ini pula yang kemudian dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi untuk menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan akibat sejumlah penyakit. Itulah yang dimaksud pengertian batuk efektif. Batuk efektif dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatihkan terlebih dahulu. Batuk efektif untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.

 Batuk memungkinkan klien mengeluarkan sekresi dari jalan napas bagian atas dan bagian napas bagian bawah. Rangkaian normal peristiwa dalam mekanisme batuk adalah inhalasi dalam, penutupan glottis, kontraksi aktif otot-otot ekspirasi, dan pembukaan glotis. Inhalasi dalam meningkatkan volume paru dan diameter jalan napas memungkinkan udara melewati sebagian lendir yang mengobstruksi atau melewati benda asing lain. Keefektifan batuk klien dievaluasi dengan melihat apakah ada sputum cair, laporan klien tentang sputum yang ditelan atau terdengarnya bunyi napas tambahan yang jelas saat klien diauskultasi. Klien yang mengalami infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah harus didorong untuk napas dalam dan batuk sekurang-kurangnya setiap 2 jam saat terjaga. Klien yang memiliki jumlah sputum yang besar harus didorong untuk batuk setiap jam saat terjaga dan setiap 2-3 jam saat tidur.

2. Tujuan Penulisan
            Untuk mengetahui adanya keefektifan batuk efektif pada pasien gangguan jalan nafas.

3. Metode
            Studi dilakukan dengan menggunakan kata kunci batuk efektif, gangguan jalan nafas dengan menggunakan data base Schoolar Google, di dapatkan 10 artikel dan diseleksi sehingga mendapatkan 4 artikel.

4. Hasil
            Batuk merupakan gerakan refleks yang bersifat reaktif terhadap masuknya benda asing ke dalam saluran pernapasan. Gerakan ini terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah untuk melindungi organ paru-paru. Batuk terjadi sebagai akibat stimulasi mekanik atau kimia pada nervus aferen pada percabangan bronkus. Batuk secara terkekeh-tekeh dapat menyebabkan seseorang kehilangan banyak energi, sulit untuk mengeluarkan dahak dan dapat mengiritasi tenggorokan.
Sebagian besar orang mencari pertolongan medis agar batuk cepat mereda, sementara itu ada orang yang takut batuknya menjadi penyakit yang serius. Batuk mempengaruhi interaksi personal dan sosial, mengganggu tidur dan sering menyebabkan ketidaknyamanan pada tenggorakan dan dinding dada. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, kita dapat menggunakan teknik batuk efektif.
Batuk efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja. Namun dibandingkan dengan batuk biasa, batuk efektif dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatih terlebih dahulu, sehingga menghambat berbagai penghalang atau menghilangkan penutup saluran pernapasan.
Teknik batuk efektif akan memberikan banyak manfaat, diantaranya untuk melonggarkan dan melegakan saluran pernapasan maupun mengatasi sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran pernapasan. Lendir baik dalam bentuk dahak (sputum) maupun sekret dalam hidung, timbul akibat adanya infeksi pada saluran pernapasan maupun karena sejumlah penyakit yang diderita oleh seorang individu. Oleh karena itu, samgat diperlukan tekhnik batuk efektif pada pasien pasien yang mengalami gangguan nafas.
Berikut ini studi yang mendukung batuk efektif dapat mengeluarkan secret, melegakan pernafasan serta mengatasi sesak nafas.


No
Penulis, Tahun
Design
Hasil
1
Sasono mardiono, 2013
Quasi Experiment sebagai eksperimen semu, dengan pendekatan One group Pretest-Postest design
Dari hasil penelitian yang didapatkan dari 32 responden rata-rata frekuensi pernafasan sebelum melakukan batuk efektif yaitu 23,37 kali per menit dengan standar deviasi 6,45, nilai minimum 8 dan maksimum 31, pasien TB paru sebelum melakukan latihan batuk efektif sebagian besar frekuensi pernafasannya cepat.

2
Susilawati, Kristiani 2008
Desain yang digunakan
adalah “Pre-post Eksperimental Desain” yaitu desain untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan
cara melibatkan satu kelompok subjek.
Sebelum dilakukan teknik batuk efektif pada pasien TB paru yang dapat mengeluarkan secret secara efektif sebesar 38,2%. Sesudah dilakukan teknik batuk efektif pada pasien TB paru yang dapat mengeluarkan secret secara efektif mengalami peningkatan sebesar 70,6%.
3
Wahyu Purnomo 2012
Mengetahui efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk penemuan BTA pasien TB paru di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif uji statistik Paired Sample t-test dan pengambilan data dilakukan dengan pengukuran volume sputum pada 30 responden pasien TB Paru di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus.
Hasil penelitian menunjukkan adanya efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk penemuan BTA pasien TB paru di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus yaitu dari spesimen 1 (sebelum batuk efektif) dan spesimen 2 (sesudah batuk efektif) 21 responden (70%) mengalami peningkatan volume sputumnya
4
Yustina Suparni, 2013
Jenis penelitian ini adalah experiment dengan
desain eksperimen semu (quasi experiment
design) yang diperluas dengan rancangan
rangkaian waktu dengan kelompok
pembanding (Control Time Series Design).
Dari hasil penelitian di ruangan Yosef 3
Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung 23 responden yang diberikan intervensi edukasi batuk efektif seluruhnya (100%) mampu melakukan batuk efektif, sebagian besar responden (87,0%) fungsi pernapasannya baik,lebih dari setengahnya (73,9%) mampu mengeluarkan sekret.


Pada penelitian yang dilakukan Sasono (2013) menunjukkan dari 32 responden rata-rata frekuensi pernafasan sebelum melakukan batuk efektif yaitu 23,37 kali per menit dengan standar deviasi 6,45, nilai minimum 8 dan maksimum 31, pasien TB paru sebelum melakukan latihan batuk efektif sebagian besar frekuensi pernafasannya cepat.  Sesudah melakukan batuk efektif yaitu 19,81 kali per menit dengan standar deviasi 4,17, nilai minimum 10 dan maksimum 25, pasien TB paru setelah melakukan latihan batuk efektif sebagian besar frekuensi pernafasannya normal. Penelitian yang dilakukan Sasono menunjukkan hasil yang positif menggunakan batuk efektif pada pasien TB paru yang mengalami gangguan jalan nafas. Kemudian di dukung dengan penelitian lainnya Pada penelitian Yustina Asparani 2013 di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung 23 responden yang diberikan intervensi edukasi batuk efektif seluruhnya (100%) mampu melakukan batuk efektif, sebagian besar responden (87,0%) fungsi pernapasannya baik,lebih dari setengahnya (73,9%) mampu mengeluarkan sekret. Sehingga, dapat disimpulkan penggunaan batuk efektif menunjukkan hasil sangat signifikan dan sangat di anjurkan pada pasien gangguan jalan nafas.
Berikut ini Penatalaksanaan batuk efektif dan latihan nafas dalam

1. Batuk Efektif
a. Huff Coughing adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada klien menderita penyakit paru-paru seperti pnemonia. Dapat dilakukan dengan langkah :
1) Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran napas dari Tehnik Batuk huff, keluarkan semua udara dari dalam paru-paru dan saluran napas. Mulai dengan bernapas pelan. Ambil napas secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan napas secara perlahan selama 3 – 4 detik.
2) Tarik napas secara diafragma, lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai overventilasi paru-paru.
3) Setelah menarik napas secara perlahan, tahan napas selama 3 detik, dilakukan untuk mengontrol napas dan mempersiapkan melakukan batuk huff secara efektif
4) Angkat dagu agak ke atas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran napas cepat sebanyak 3 kali dengan saluran napas dan mulut terbuka, keluarkan dengan bunyi Ha,ha,ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epligotis terbuka dan mempermudah pengeluaran mukus.
5) Kontrol napas, kemudian ambil napas pelan 2 kali.
6) Ulangi teknik batuk di atas sampai mukus sampai ke belakang tenggorokkan
7) Setelah itu batukkan dan keluarkan mukus/dahak.
b. Postsurgical Deep Coughing

Langkah 1 :
o Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dapat berbaring terlentang dengan lutut agak ditekukkan,
o Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan,
o Bernapaslah dengan normal

Lagkah 2 :
o Bernapaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung.
o Kemudian keluarkan napas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua kalinya.
o Untuk ketiga kalinya, Ambil napas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin.

Langkah 3 :
o Batukkan 2 – 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara dari paru-paru semaksimalkan mungkin ketika batuk.
Relax dan bernapas seperti biasa

2. Latihan nafas dalam
Bentuk Latihan Napas Dalam
Description: a17_fase_batuk.jpg









Gambar 01. Tata cara Batuk Efektif

a. Pernapasan Diafragma
1) Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah.
2) Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk.
3) Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi.
4) Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
5) Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,51 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini.
Description: pernafasan diafragma.jpg












Gambar 02. Pernafasan Diafragma


b. Pursed Lips Breathing
1) Menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup,
2) kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi seperti bersiul,
3) PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi,
4) selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung,
5) dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabangcabang bronkus sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi.

3 Tujuan Batuk Efektif
Batuk efektif merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan :
a. Merangsang terbukanya sistem kolateral
Sistem kolateral adalah suatu jalur aliran darah baru untuk mengaliri suatu jaringan atau organ yang sama. Saluran kolateral terbentuk bila terjadi sumbatan yang menutup aliran darah utama tubuh kita.Seperti bila terjadi sumbatan pada arteri koronaria yang mengaliri jantung kita, maka arteri koroner yang lebih kecil akan mengembangkan jalur pembuluh darah baru di sekitar sumbatan dengan tujuan agar jantung tetap mendapat suplai darah dan oksigen.
b. Meningkatkan distribusi ventilasi
c. Meningkatkan volume paru
d. Memfasilitasi dan meningkatkan pembersihan saluran napas
e. Mencegah infeksi
f. Mengatur frekuensi dan pola napas sehingga mengurangi air trapping atau gas trapping Retensi abnormal paru-paru dimana sulit untuk menghembuskan napas sepenuhnya.
g. Memperbaiki fungsi diafragma
h. Memperbaiki mobilitas sangkar toraks
i. Meningkatkan rasa nyaman klien
j. Mengeluarkan sekresi dari jalan napas bagian atas dan bawah.
Jalan napas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan udara atmosf termasuk melalui hidung, mulut, dan bronkus hingga ke alveoli.Jalan napas atas terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, laring, trakea.Jalan napas bawah terdiri dari bronkus dan percabangannya serta paru-paru.
4. Indikasi
Dilakukan pada pasien seperti :
a. COPD / PPOK (Chronic Obstructive Pulmonary Disease /Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
Penyakit ini ditandai oleh hambatan aliran udara disaluran napas yang bersifat progresif non reversible atau reversible parsial.Ppok terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.

b. Emfisema
Emfisema adalah kondisi di mana kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur, membuat napas lebih pendek. Emfisema adalah salah satu dari beberapa penyakit yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.
Emfisema membuat kantung udara yang terdiri dari balon-balon yang bergerombol seperti tandan buah anggur menjadi kantung udara dengan lubang-lubang menganga di dindingnya. Hal ini mengurangi luas permukaan paru-paru dan pada gilirannya jumlah oksigen yang mencapai aliran darah.

c. Fibrosis
Fibrosis adalah pembentukan kelebihan fibrosa jaringan ikat di suatu organ atau jaringan dalam proses reparatif atau reaktif. Bisa berupa reaktif, jinak, atau patologis. Cedera ini disebut jaringan parut dan jika fibrosis muncul dari garis sel tunggal disebut fibroma. Secara fisiologis bertindak untuk deposit jaringan ikat, yang dapat melenyapkan arsitektur dan fungsi dari organ atau jaringan yang mendasarinya. Fibrosis dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan patologis deposisi kelebihan jaringan fibrosa, serta proses deposisi jaringan ikat dalam penyembuhan.

d. Asma
Merupakan gangguan inflamasi pada jalan napas yang ditandai oleh opstruksi aliran udara napas dan respon jalan napas yang berlebihan terhadap berbagai bentuk rangsangan.

e. Chest infection
Infeksi dada adalah infeksi yang mempengaruhi paru-paru Anda, baik dalam saluran udara yang lebih besar (bronchitis) atau dalam kantung-kantung udara kecil (pneumonia). Ada penumpukan nanah dan cairan (lendir), dan saluran udara menjadi bengkak, sehingga sulit untuk bernapas. infeksi dada dapat mempengaruhi orang dari segala usia. Anak-anak kecil dan orang tua adalah yang paling berisiko, serta orangorang yang sakit dan perokok. Infeksi dada bisa serius bagi orang-orang ini.

f. Pasien bedrest atau post operasi
Batuk efektif dilakukan pada pasien bedrest atau post operasi karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu napas selama dalam kondisi teransetesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan, latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.

5. Kontra indikasi
a. Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara bebas dalam ruang antar pleura dan merupakan suatu keadaan gawat darurat.
b. Hemoptisis adalah meludahkan darah yang berasal dari paru-paru atau saluran bronkial sebagai akibat dari perdarahan paru atau bronkus.
c. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akut dan aritmia.
d. Edema paru
Edema paru adalah keadaan terdapatnya cairan ekstravaskuler yang berlebihan dalam paru.
e. Efusi pleura yang luas
Efusi Pleura yang juga dikenal dengan cairan di dada adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan cairan yang berlebihan diantara kedua lapisan pleura. Ada dua tipe Efusi Pleura: Efusi Pleura Transudatifa dan Efusi Pleura Eksudatifa. Efusi pleura transudatifa disebabkan oleh bocornya cairan ke rongga pleura yang disebabkan oleh konsentrasi protein yang rendah atau tekanan darah yang tinggi, seperti pada keadaan gagal jantung kiri atau sirosis hati. Sedangkan bentuk lainnya, efusi pleura eksudatifa seringkali merupakan hasil peradangan pleura, pada keadaan seperti pneumonia dan tuberkulosis, yang menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih mudah ditembus, memungkinkan cairan bocor ke luar dan berkumpul diantara dua lapisan pleura.

6. Persiapan Alat dan Bahan
1. Sarung tangan
2. Bengkok
3. Antiseptik (jika perlu)
4. Sputum pot
5. Tisu habis pakai
6. Air minum hangat

 Prosedur Pelaksanaan
a. Tahap Pra Interaksi
1) Mengecek program terapi
2) Mencuci tangan
3) Menyiapkan alat

b. Tahap Orientasi
1) Memberikan salam dan sapa nama pasien
2) Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

c. cara kerja
1) Menjaga privasi pasien
2) Mempersiapkan pasien
3) Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
4) Melatih pasien melakukan napas perut (menarik napas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
5) Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
6) Meminta pasien menahan napas hingga 3 hitungan
7) Meminta menghembuskan napas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup)
8) Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari otot
9) Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur miring)
10) Meminta pasien untuk melakukan napas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan napas dan batukkan dengan kuat
11) Menampung lender dalam sputum pot
12) Merapikan pasien

d. Tahap Terminasi
1) Melakukan evaluasi tindakan
2) Berpamitan dengan klien
3) Mencuci tangan
4) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

5. Kesimpulan
            Dari hasil review diketahui bahwa penggunaan batuk efektif pada pasien gangguan nafas sangatlah dianjurkan, karena bisa melegakan nafas, dan membuang secret di tenggorokan


Daftar Pustaka
Susilawati 2008, Pengaruh tekhnik batuk efektif terhadap pengeluaran secret pada pasien TB paru RSUD Swadana URL: http://ejournal.akperpamenang.ac.id/index.php/akp/article/download/16/11  (Di unduh 30 Oktober 2016) 
Sasono 2013, Pengaruh latihan batuk efektif terhadap frekuensi pernafasan pada pasien TB paru di RSPelabuhan http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=152124&idc=24  (Di unduh 29 Oktober 2016)
Yustina Suparni, Pengaruh pemberian batuk efektif terhadap pengeluaran secret pasca narcose umum http://stikespemkabjombang.ac.id/ejurnal/index.php/Juli  (Di unduh 30 oktober 2016)

Wahyu Purnomo, Efektifitas batuk efektif pada pengeluaran secret pada pasien TB paru di RS Mardi Kudus http://jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id/index.php/stikes/article/view/37   (Di unduh 30 Oktober 2016)

 
notifikasi
close