BATUK EFEKTIF: A REVIEW
1.
Latar
Belakang
Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan
benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah
mengeluarkan dahak secara maksimal. Batuk merupakan gerakan yang dilakukan
tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru paru. Gerakan
ini pula yang kemudian dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi untuk
menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan akibat sejumlah
penyakit. Itulah yang dimaksud pengertian batuk efektif. Batuk efektif
dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatihkan terlebih dahulu. Batuk
efektif untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
Batuk
memungkinkan klien mengeluarkan sekresi dari jalan napas bagian atas dan bagian
napas bagian bawah. Rangkaian normal peristiwa dalam mekanisme batuk adalah
inhalasi dalam, penutupan glottis, kontraksi aktif otot-otot ekspirasi, dan
pembukaan glotis. Inhalasi dalam meningkatkan volume paru dan diameter jalan
napas memungkinkan udara melewati sebagian lendir yang mengobstruksi atau melewati
benda asing lain. Keefektifan batuk klien dievaluasi dengan melihat apakah ada
sputum cair, laporan klien tentang sputum yang ditelan atau terdengarnya bunyi
napas tambahan yang jelas saat klien diauskultasi. Klien yang mengalami infeksi
saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah harus didorong untuk napas
dalam dan batuk sekurang-kurangnya setiap 2 jam saat terjaga. Klien yang
memiliki jumlah sputum yang besar harus didorong untuk batuk setiap jam saat
terjaga dan setiap 2-3 jam saat tidur.
2. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui adanya keefektifan
batuk efektif pada pasien gangguan jalan nafas.
3. Metode
Studi dilakukan dengan menggunakan
kata kunci batuk efektif, gangguan jalan
nafas dengan menggunakan data base Schoolar
Google, di dapatkan 10 artikel dan diseleksi sehingga mendapatkan 4
artikel.
4. Hasil
Batuk merupakan gerakan refleks yang
bersifat reaktif terhadap masuknya benda asing ke dalam saluran pernapasan.
Gerakan ini terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah untuk
melindungi organ paru-paru. Batuk terjadi sebagai akibat stimulasi mekanik
atau kimia pada nervus aferen pada percabangan bronkus. Batuk secara
terkekeh-tekeh dapat menyebabkan seseorang kehilangan banyak energi, sulit
untuk mengeluarkan dahak dan dapat mengiritasi tenggorokan.
Sebagian
besar orang mencari pertolongan medis agar batuk cepat mereda, sementara itu
ada orang yang takut batuknya menjadi penyakit yang serius. Batuk mempengaruhi
interaksi personal dan sosial, mengganggu tidur dan sering menyebabkan
ketidaknyamanan pada tenggorakan dan dinding dada. Untuk mengantisipasi
hal-hal tersebut, kita dapat menggunakan teknik batuk efektif.
Batuk
efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja. Namun dibandingkan
dengan batuk biasa, batuk efektif dilakukan melalui gerakan yang terencana atau
dilatih terlebih dahulu, sehingga menghambat berbagai penghalang atau
menghilangkan penutup saluran pernapasan.
Teknik
batuk efektif akan memberikan banyak manfaat, diantaranya untuk melonggarkan
dan melegakan saluran pernapasan maupun mengatasi sesak napas akibat adanya
lendir yang memenuhi saluran pernapasan. Lendir baik dalam bentuk dahak
(sputum) maupun sekret dalam hidung, timbul akibat adanya infeksi pada saluran
pernapasan maupun karena sejumlah penyakit yang diderita oleh seorang individu.
Oleh karena itu, samgat diperlukan tekhnik batuk efektif pada pasien pasien
yang mengalami gangguan nafas.
Berikut
ini studi yang mendukung batuk efektif dapat mengeluarkan secret, melegakan
pernafasan serta mengatasi sesak nafas.
|
No
|
Penulis, Tahun
|
Design
|
Hasil
|
|
1
|
Sasono mardiono, 2013
|
Quasi Experiment
sebagai eksperimen semu, dengan pendekatan One group Pretest-Postest
design
|
Dari hasil penelitian yang
didapatkan dari 32 responden rata-rata frekuensi pernafasan sebelum melakukan
batuk efektif yaitu 23,37 kali per menit dengan standar deviasi 6,45, nilai
minimum 8 dan maksimum 31, pasien TB paru sebelum melakukan latihan batuk efektif
sebagian besar frekuensi pernafasannya cepat.
|
|
2
|
Susilawati, Kristiani
2008
|
Desain
yang digunakan
adalah
“Pre-post Eksperimental Desain” yaitu desain untuk mengungkapkan hubungan
sebab akibat dengan
cara
melibatkan satu kelompok subjek.
|
Sebelum
dilakukan teknik batuk efektif pada pasien TB paru yang dapat mengeluarkan
secret secara efektif sebesar 38,2%. Sesudah dilakukan teknik batuk efektif
pada pasien TB paru yang dapat mengeluarkan secret secara efektif mengalami
peningkatan sebesar 70,6%.
|
|
3
|
Wahyu Purnomo 2012
|
Mengetahui
efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk penemuan BTA pasien
TB paru di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus. Penelitian ini menggunakan
metode kuantitatif uji statistik Paired Sample t-test dan pengambilan data
dilakukan dengan pengukuran volume sputum pada 30 responden pasien TB Paru di
ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus.
|
Hasil penelitian
menunjukkan adanya efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk
penemuan BTA pasien TB paru di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus yaitu
dari spesimen 1 (sebelum batuk efektif) dan spesimen 2 (sesudah batuk
efektif) 21 responden (70%) mengalami peningkatan volume sputumnya
|
|
4
|
Yustina Suparni, 2013
|
Jenis
penelitian ini adalah experiment dengan
desain
eksperimen semu (quasi experiment
design)
yang
diperluas dengan rancangan
rangkaian
waktu dengan kelompok
pembanding
(Control Time Series Design).
|
Dari
hasil penelitian di ruangan Yosef 3
Rumah
Sakit Santo Borromeus Bandung 23 responden yang diberikan intervensi edukasi
batuk efektif seluruhnya (100%) mampu melakukan batuk efektif, sebagian besar
responden (87,0%) fungsi pernapasannya baik,lebih dari setengahnya (73,9%)
mampu mengeluarkan sekret.
|
Pada
penelitian yang dilakukan Sasono (2013) menunjukkan dari 32 responden rata-rata
frekuensi pernafasan sebelum melakukan batuk efektif yaitu 23,37 kali per menit
dengan standar deviasi 6,45, nilai minimum 8 dan maksimum 31, pasien TB paru
sebelum melakukan latihan batuk efektif sebagian besar frekuensi pernafasannya
cepat. Sesudah melakukan batuk efektif
yaitu 19,81 kali per menit dengan standar deviasi 4,17, nilai minimum 10 dan
maksimum 25, pasien TB paru setelah melakukan latihan batuk efektif sebagian
besar frekuensi pernafasannya normal. Penelitian yang dilakukan Sasono
menunjukkan hasil yang positif menggunakan batuk efektif pada pasien TB paru
yang mengalami gangguan jalan nafas. Kemudian di dukung dengan penelitian
lainnya Pada penelitian Yustina Asparani 2013 di Rumah Sakit Santo Borromeus
Bandung 23 responden yang diberikan intervensi edukasi batuk
efektif seluruhnya (100%) mampu melakukan batuk efektif, sebagian besar
responden (87,0%) fungsi pernapasannya baik,lebih dari setengahnya (73,9%)
mampu mengeluarkan sekret. Sehingga, dapat disimpulkan penggunaan batuk efektif
menunjukkan hasil sangat signifikan dan sangat di anjurkan pada pasien gangguan
jalan nafas.
Berikut ini Penatalaksanaan batuk
efektif dan latihan nafas dalam
1.
Batuk Efektif
a.
Huff Coughing adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada klien
menderita penyakit paru-paru seperti pnemonia. Dapat dilakukan dengan langkah :
1)
Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran napas dari Tehnik Batuk huff, keluarkan
semua udara dari dalam paru-paru dan saluran napas. Mulai dengan bernapas
pelan. Ambil napas secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan napas secara
perlahan selama 3 – 4 detik.
2)
Tarik napas secara diafragma, lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai
overventilasi paru-paru.
3)
Setelah menarik napas secara perlahan, tahan napas selama 3 detik, dilakukan
untuk mengontrol napas dan mempersiapkan melakukan batuk huff secara efektif
4)
Angkat dagu agak ke atas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran
napas cepat sebanyak 3 kali dengan saluran napas dan mulut terbuka, keluarkan
dengan bunyi Ha,ha,ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epligotis
terbuka dan mempermudah pengeluaran mukus.
5)
Kontrol napas, kemudian ambil napas pelan 2 kali.
6)
Ulangi teknik batuk di atas sampai mukus sampai ke belakang tenggorokkan
7)
Setelah itu batukkan dan keluarkan mukus/dahak.
b.
Postsurgical Deep Coughing
Langkah 1 :
o
Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dapat berbaring terlentang dengan
lutut agak ditekukkan,
o
Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua
tangan,
o
Bernapaslah dengan normal
Lagkah 2 :
o
Bernapaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung.
o
Kemudian keluarkan napas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua
kalinya.
o
Untuk ketiga kalinya, Ambil napas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi
paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin.
Langkah
3 :
o
Batukkan 2 – 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara
dari paru-paru semaksimalkan mungkin ketika batuk.
Relax dan bernapas
seperti biasa
2.
Latihan nafas dalam
Bentuk
Latihan Napas Dalam

Gambar
01. Tata cara Batuk Efektif
a. Pernapasan Diafragma
1)
Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah.
2)
Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri
atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk.
3)
Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan
yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang
rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang
turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada
dan otot bantu napas relaksasi.
4)
Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui
mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif
dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat
berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan
meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
5)
Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk
menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,51 kg dapat diletakkan di
atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini.

Gambar
02. Pernafasan Diafragma
b. Pursed Lips Breathing
1)
Menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan
menarik napas dalam) dengan mulut tertutup,
2)
kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi
seperti bersiul,
3)
PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi,
4)
selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung,
5)
dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga
mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabangcabang bronkus
sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu
ekspirasi.
3 Tujuan Batuk Efektif
Batuk
efektif merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang
dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan :
a.
Merangsang terbukanya sistem kolateral
Sistem
kolateral adalah suatu jalur aliran darah baru untuk mengaliri suatu jaringan
atau organ yang sama. Saluran kolateral terbentuk bila terjadi sumbatan yang
menutup aliran darah utama tubuh kita.Seperti bila terjadi sumbatan pada arteri
koronaria yang mengaliri jantung kita, maka arteri koroner yang lebih kecil
akan mengembangkan jalur pembuluh darah baru di sekitar sumbatan dengan tujuan
agar jantung tetap mendapat suplai darah dan oksigen.
b.
Meningkatkan distribusi ventilasi
c.
Meningkatkan volume paru
d.
Memfasilitasi dan meningkatkan pembersihan saluran napas
e.
Mencegah infeksi
f.
Mengatur frekuensi dan pola napas sehingga mengurangi air trapping atau gas
trapping Retensi abnormal paru-paru dimana sulit untuk menghembuskan napas
sepenuhnya.
g.
Memperbaiki fungsi diafragma
h.
Memperbaiki mobilitas sangkar toraks
i.
Meningkatkan rasa nyaman klien
j.
Mengeluarkan sekresi dari jalan napas bagian atas dan bawah.
Jalan
napas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan udara atmosf
termasuk melalui hidung, mulut, dan bronkus hingga ke alveoli.Jalan napas atas
terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, laring, trakea.Jalan napas bawah
terdiri dari bronkus dan percabangannya serta paru-paru.
4. Indikasi
Dilakukan
pada pasien seperti :
a. COPD / PPOK (Chronic Obstructive
Pulmonary Disease /Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
Penyakit
ini ditandai oleh hambatan aliran udara disaluran napas yang bersifat progresif
non reversible atau reversible parsial.Ppok terdiri dari bronkitis kronik dan
emfisema atau gabungan keduanya.
b. Emfisema
Emfisema
adalah kondisi di mana kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur,
membuat napas lebih pendek. Emfisema adalah salah satu dari beberapa penyakit
yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai
kerusakan dinding alveoli.
Emfisema
membuat kantung udara yang terdiri dari balon-balon yang bergerombol seperti
tandan buah anggur menjadi kantung udara dengan lubang-lubang menganga di dindingnya.
Hal ini mengurangi luas permukaan paru-paru dan pada gilirannya jumlah oksigen
yang mencapai aliran darah.
c. Fibrosis
Fibrosis
adalah pembentukan kelebihan fibrosa jaringan ikat di suatu organ atau jaringan
dalam proses reparatif atau reaktif. Bisa berupa reaktif, jinak, atau
patologis. Cedera ini disebut jaringan parut dan jika fibrosis muncul dari garis
sel tunggal disebut fibroma. Secara fisiologis bertindak untuk deposit jaringan
ikat, yang dapat melenyapkan arsitektur dan fungsi dari organ atau jaringan
yang mendasarinya. Fibrosis dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan
patologis deposisi kelebihan jaringan fibrosa, serta proses deposisi jaringan
ikat dalam penyembuhan.
d. Asma
Merupakan
gangguan inflamasi pada jalan napas yang ditandai oleh opstruksi aliran udara
napas dan respon jalan napas yang berlebihan terhadap berbagai bentuk rangsangan.
e. Chest infection
Infeksi
dada adalah infeksi yang mempengaruhi paru-paru Anda, baik dalam saluran udara
yang lebih besar (bronchitis) atau dalam kantung-kantung udara kecil (pneumonia).
Ada penumpukan nanah dan cairan (lendir), dan saluran udara menjadi bengkak,
sehingga sulit untuk bernapas. infeksi dada dapat mempengaruhi orang dari segala
usia. Anak-anak kecil dan orang tua adalah yang paling berisiko, serta
orangorang yang sakit dan perokok. Infeksi dada bisa serius bagi orang-orang
ini.
f. Pasien bedrest atau post operasi
Batuk
efektif dilakukan pada pasien bedrest atau post operasi karena pasien akan mengalami
pemasangan alat bantu napas selama dalam kondisi teransetesi. Sehingga ketika
sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak
lendir kental di tenggorokan, latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi
pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.
5. Kontra indikasi
a.
Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara bebas dalam ruang antar
pleura dan merupakan suatu keadaan gawat darurat.
b.
Hemoptisis adalah meludahkan darah yang berasal dari paru-paru atau saluran bronkial
sebagai akibat dari perdarahan paru atau bronkus.
c.
Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard
akut dan aritmia.
d.
Edema paru
Edema
paru adalah keadaan terdapatnya cairan ekstravaskuler yang berlebihan dalam paru.
e.
Efusi pleura yang luas
Efusi
Pleura yang juga dikenal dengan cairan di dada adalah suatu kondisi medis yang ditandai
dengan peningkatan cairan yang berlebihan diantara kedua lapisan pleura. Ada dua
tipe Efusi Pleura: Efusi Pleura Transudatifa dan Efusi Pleura Eksudatifa. Efusi
pleura transudatifa disebabkan oleh bocornya cairan ke rongga pleura yang
disebabkan oleh konsentrasi protein yang rendah atau tekanan darah yang tinggi,
seperti pada keadaan gagal jantung kiri atau sirosis hati. Sedangkan bentuk
lainnya, efusi pleura eksudatifa seringkali merupakan hasil peradangan pleura,
pada keadaan seperti pneumonia dan tuberkulosis, yang menyebabkan pembuluh
darah menjadi lebih mudah ditembus, memungkinkan cairan bocor ke luar dan
berkumpul diantara dua lapisan pleura.
6. Persiapan Alat dan Bahan
1.
Sarung tangan
2.
Bengkok
3.
Antiseptik (jika perlu)
4.
Sputum pot
5.
Tisu habis pakai
6.
Air minum hangat
Prosedur Pelaksanaan
a.
Tahap Pra Interaksi
1)
Mengecek program terapi
2)
Mencuci tangan
3)
Menyiapkan alat
b. Tahap Orientasi
1)
Memberikan salam dan sapa nama pasien
2)
Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3)
Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
c. cara kerja
1)
Menjaga privasi pasien
2)
Mempersiapkan pasien
3)
Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
4)
Melatih pasien melakukan napas perut (menarik napas dalam melalui hidung hingga
3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
5)
Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
6)
Meminta pasien menahan napas hingga 3 hitungan
7)
Meminta menghembuskan napas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti
meniup)
8)
Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari otot
9)
Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat
mulut bila tidur miring)
10)
Meminta pasien untuk melakukan napas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan
napas dan batukkan dengan kuat
11)
Menampung lender dalam sputum pot
12)
Merapikan pasien
d. Tahap Terminasi
1)
Melakukan evaluasi tindakan
2)
Berpamitan dengan klien
3)
Mencuci tangan
4)
Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.
5. Kesimpulan
Dari hasil review diketahui bahwa
penggunaan batuk efektif pada pasien gangguan nafas sangatlah dianjurkan,
karena bisa melegakan nafas, dan membuang secret di tenggorokan
Daftar Pustaka
Susilawati
2008, Pengaruh tekhnik batuk efektif terhadap pengeluaran secret pada pasien TB
paru RSUD Swadana URL: http://ejournal.akperpamenang.ac.id/index.php/akp/article/download/16/11 (Di unduh 30 Oktober 2016)
Sasono
2013, Pengaruh latihan batuk efektif terhadap frekuensi pernafasan pada pasien
TB paru di RSPelabuhan http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=152124&idc=24
(Di unduh 29 Oktober 2016)
Yustina
Suparni, Pengaruh pemberian batuk efektif terhadap pengeluaran secret pasca
narcose umum http://stikespemkabjombang.ac.id/ejurnal/index.php/Juli (Di unduh 30 oktober 2016)
Wahyu
Purnomo, Efektifitas batuk efektif pada pengeluaran secret pada pasien TB paru
di RS Mardi Kudus http://jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id/index.php/stikes/article/view/37
(Di
unduh 30 Oktober 2016)


